Agus Riyanto 26 Maret 2017
tenaga kerja

Memalsukan Pengalam Kerja,Bahaya Atau Menguntungkan?

Memilih kerja dengan gaji yang tinggi adalah impian semua pencari pekerjaan.Di Indonesia sendiri masih banyak perusahaan yang memberi gaji dibawah standar kelayakan,sebut saja perusahaan-perusahaan pelayaran lokal begitu banyaknya yang masih memberi upah kepada pekerjanya dengan gaji yang rendah dan jauh dari kata layak bahkan banyak yang masih di bawah standar upah minimum regional Jakarta,sebagai tolak ukurnya.

Ya ini sangat miris memang,seorang pelaut dengan gaji yang rendah sementara resiko keselamatan dan waktu kerjanya sangat maksimal.

Dilain sisi hampir semua perusahaan dengan gaji yang layak hanya menerima pelamar yang berpengalaman sesuai dengan jabatan dan jenis kapalnya.

Bahkan banyak perusahaan yang meminta pengalaman harus melebihi beberapa tahun masa layar,dan itupun harus sesuai dengan tipe kapalnya.

Sementara baik yang pengalaman maupun non pengalaman pasti mengharap gaji yang setidaknya layak karena urusan perut dan kebutuhan keluarga.Hal ini bahkan tidak hanya berlaku di Indonesia perusahaan-perusahaan asing dengan gaji yang lebih baik juga menggunakan sistem perekrutan yang sama.

Terutama bagi yang memiliki jabatan rating/bawahan jarang sekali ada sistim pelatihan atau dalam jabatan perwira sistim kadet.Hal ini memicu banyak permasalahan bagi para pelamar kerja yang non penglaman,mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak.

Sehingga mau gak mau para junior ini bekerja di perusahaan-perusahaan dengan gaji yang sangat tidak layak akibatnya perusahaan-perusahaan pemberi upah rendah merasa adem ayem tanpa perlu menaikan standarisasi gaji,karena banyaknya para pelamar meski masih nol pengalaman.

Inilah sebuah dilema disaat kita mengharap perusahaan gaji rendah menaikan standar gajinya namun dengan banyaknya peminat mereka menjadi merasa santai dan memberi gaji yang belum layak sebagai hal yang wajar




Baca Juga:

Tips Mendapatkan Pekerjaan di Linkedin

 

Di perusahaan bertaraf internationalpun demikian bahkan sebagian lebih ketat dalam proses seleksi tenaga kerja.Saya sendiri punya pengalaman bagaimana susahnya masuk di perusahaan yang bergaji layak,bahkan saya yang berpengalaman sebagai abk lebih dari 5 tahun masa layar kesulitan masuk ke perusahaan tersebut lantaran pengalaman saya bertipe kapal yang berbeda.

Waktu itu di tahun 2010 perusahaan offshore sedang pada masa keemasan dimana banyak sekali lowongan,saya yang berpengalaman kapal tugboat menjadi ngiler mendengar cerita tentang bagaimana perusahaan kapal offshore memiliki standar keselamatan yang baik,kualitas akomodasi dan makanan yang jauh lebih baik serta kontrak kerja yang pendek membuat saya sendiri memilih maju melamar di tipe kapal ini.Bermdalkan pengalaman lebih dari 5 tahum di negara jiran Malaysia sebagai abk tugbot saya mencoba melamar perusahaan-perusahaan kapal offshore.

Meski pengalaman yang menurut saya cukup ternyata tidak mampu menembus untuk bekerja alasanya rata-rata pengalamaya tidak sesuai dengan kapal offshore,dalam pikirku saya yang berpangalaman saja kesulitan mendapatkan pekerjaan lantas bagaimana dengan mereka yang non pengalaman?Singkat cerita beberapa bulan kemudian saya mendapat respon yang cukup menggembirakan dari sebuah kru agen yang berkantor di Inggris.

Waktu itu perusahaan masih lumayan baru,meski tidak mendapat tawaran kerja secara instan,namun mereka memberi kesempatan untuk menunggu jika ada kekosongan yang sesuai sebagai tenaga kerja yang dibutuhkan.

Saya terus absen dengan terus mengirim email setiap 2 kali dalam seminggu,sayangnya selalu tidak ada hingga serasa habis kesabaranku.Namun di bulan ke 7 semenjak lamaran saya kirimkan saya mendapat telefon mengejutkan dari +44…artinya adalah nomor Inggris,dan menawarkan saya untuk join di kapal AHTS.

Singkat cerita bergabunglah dengan kapal tersebut setidaknya ada beberapa kru dari Idonesia dan beberapa dari Filipina.Ada yang menarik perhatian saya ketika itu,seorang filipina yang masih muda teman saya bekerja agak aneh karena seharusnya seluruh kru kapal adalah orang-orang yang berpengalaman tapi yang satu ini bahkan banyak tidak tahu bagaimana cara kerja di kapal,tidak paham apa itu kewajiban jaga dan kerja harian.

Selidik punya selidik saya tanyakan dan akhirnya dia jujur jika ini adalah pengalaman pertamanya,dia merubah buku pelaut sehingga mempunyai pengalaman kapal serupa.

Akhirnya aku tahu jika mereka telah memalsukan pengalaman kerja ke dalam buku pelautnya.

Baca Juga:

Bekerja Maksimal Malah Dibilang Cari Muka?

 

Hari,bulan dan tahun berlalu saya mendapati banyaknya kasus serupa,tenaga kerja tanpa pengalaman bisa begitu mudah masuk ke perusahaan tanpa membuang waktu seperti saya lantaran berbeda jenis kapalnya pada pengalaman saya.

Kenapa semua itu bisa terjadi?kenapa perusahaan yang mengharapakn kru yang sempurna justru mendapatkan dan memilih kru yang tidak berpengalaman?Saya tidak menyalahkan pelamar kerja yang memalsukan pengalamanya,karena secara teori seorang pelaut pemula sekalipun pasti mengharap gaji yang layak sementara para perusahaan hanya mengharap pelamar yang berpengalaman bahkan harus fit dengan jenis kapalnya.

Seandainya perusahaan-perusahaan bagus memberi kesempatan pada pelaut pemula,setidaknya dapat mengurangi pembohongan pengalaman karena tak perlu berbohongpun mereka bisa bekerja untuk mendapatkan perusahaan yang berkualitas,namun nyatanya perusahaan kadang lebih memilih dibohongi daripada mencari pelaut/pelamar yang jujur.

 

 

 

Tinggalkan Balasan